Kamis, 19 April 2012

Oleh : MUH. MUJIBURRAHMAN
Alamat : Mengkuru Desa Mengkuru Kec. Sakra Barat Lotim
TINJAUAN STILISKTIKA CERPEN CINTA SEJATI KARYA ANTOMI


BAB I
PENGANTAR
1.1  Latar Belakang
Sebagai sebuah karya imajiner, fiksi mengungkapkan berbagai macam persoalan tentang manusia dan kehidupan. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan yang kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Oleh karena itu, fiksi, menurut Altenberd dalam Nurgiyantoro (2000:2), dapat diartikan sebagai “prosa naratif yang bersifat imajinatif, namun biasanya masuk akal dan mengandung kebenaran yang mendramatisasikan hubungan- hubungan antar manusia. Pengarang mengemukakan hal itu berdasarkan pengalaman dan pengamatannya terhadap kehidupan. Namun, hal itu dilakukan secara selektif dan dibentuk sesuai dengan tujuannya sekaligus memasukkan unsur hiburan dan penerangan terhadap pengalaman kehidupan manusia”. Penyeleksian pengalaman kehidupan yang akan diceritakan tersebut, tentu saja, bersifat subjektif.
Merupakan hasil dialog, kontemplasi, dan reaksi pengarang terhadap lingkungan dan kehidupan. Oleh karena itu, fiksi merupakan sebuah cerita yang  tidak hanya bertujuan estetik, tetapi juga memberikan hiburan kepada pembaca. Melalui sarana cerita itu pembaca secara tak langsung dapat belajar, merasakan, dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan oleh pengarang. Hal itu disebabkan cerita fiksi tersebut akan mendorong pembaca ikut merenungkan masalah hidup dan kehidupan.
Salah satu bentuk karya sastra yang berupa fiksi itu adalah cerpen. Cerpen, sesuai dengan namanya, adalah cerita yang pendek. Jassin dalam Nurgiyantoro (2000:10) mengatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang lebih bersifat memperpanjang cerita.
Cerpen merupakan jenis karya sastra yang paling banyak dibaca orang dengan pemahaman yang cukup memadai. Cerpen banyak menggunakan bahasa yang lugas dan mengacu pada makna denotatif sehingga lebih bersifat transparan. Namun adapula cerpen yang tidak transparan, bersifat prismatis dan penuh dengan perlambangan. Menurut Hendy (1989:184) cerpen memiliki beberapa ciri, yaitu: panjang kisahannya lebih singkat daripada novel, alur ceritanya rapat, berfokus pada satu klimaks, memusatkan cerita pada tokoh tertentu, waktu tertentu, dan situasi tertentu, sifat tikaiannya dramatik, yaitu berintikan pada perbenturan yang berlawanan, dan tokoh-tokoh di dalamnya ditampilkan pada suatu latar atau latar belakang melalui lakuan dalam satu situasi.

1.2  Masalah
Berdasarkan paparan yang dikemukakan dalam pendahuluan, masalah yang menjadi pokok perhatian penulis adalah:
1)      Bagaimanakah diksi cerpen Cinta Sejati?
2)      Bagaimanakah gaya bahasa cerpen Cinta Sejati?

1.3  Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dirumuskan terdahulu. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk
1)   Memaparkan bentuk diksi cerpen Cinta Sejati
2)   Memahami gaya bahasa cerpen Cinta Sejati

1.4  Landasan Teori
Landasan teori ini berawal dari pernyataan Wellek dan Warren (1993:229) yang menyebutkan bahwa analisis stilistik akan membawa keuntungan besar bagi studi sastra yang dapat menentukan suatu prinsip yang mendasari kesatuan karya sastra dan dapat juga menemukan suatu tujuan estetika umum yang menonjol dalam sebuah karya sastra dari keseluruhan unsurnya.
A.   Stilistika
Stilistika (stylistics) adalah (1) ilmu yang menyelidiki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dan kesusastraan; (2) penerapan linguistik pada penelitian gaya bahasa (Kridalaksana, 1982:157). Beberapa pengertian itu dapat diringkas demikian: stilistika adalah ilmu tentang gaya (bahasa). Stilistika sesungguhnya tidak hanya merupakan studi gaya bahasa dalam kesusastraan, tetapi juga dalam bahasa pada umumnya. Turner dalam Junus (1989:xvii) mengatakan bahwa bagaimanapun stilistika adalah bagian dari linguistik yang memusatkan perhatian pada variasi penggunaan bahasa, terutama bahasa dalam kesusastraan.
Pengertian stilistika, banyak para ahli bahasa mengemukakan teorinya. Kridalaksana (1983 : 15) menyatakan bahwa (1) stilistika adalah ilmu yang menyelediki bahasa yang dipergunakan dalam karya sastra; ilmu interdisipliner antara linguistik dengan kesusasatraan; (2) penerangan linguistik pada penelitian gaya bahasa. Di sini didapatkan beberapa konsep stilistika antara lain; stilistika sebagai ilmu yang menyelidiki bahasa dalam sastra, stilistika ilmu interdisipliner antara linguistik dengan kesusastraan, serta penerangan linguistik pada penelitian gaya bahasa. Dengan demikian, stilistika tidak hanya untuk meneliti puisi saja karena stilistika menyelidiki bahasa yang ada dalam karya sastra, sedangkan karya sastra tidak hanya puisi saja.
Stilistika juga mengandung pengertian pengetahuan tentang kata berjiwa (Slamet muljana, 1956 : 4). Kata berjiwa adalah kata yang dipergunakan dalam cipta sastra yang mengandung perasaan pengarangnya. Dari pengertian ini diperoleh sebuah pemahaman bahwa kata berjiwa sangat erat kaitrannya dengan perasaan pengarangnya dalam mencipta karya sastra. Dalam hal ini, pengarang akan benar-benar mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata yang telah diresapi jiwanya sehingga dapat diproduksi sebuah karya sastra yang mencerminkan perasaan pengarangnya. Kemudian ini menjadi tugas stilistika untuk  membeberkan pemakaian susun kata dalam kalimat kepada pembacanya. Penempatan kata dalam kalimat menyebabkan gaya kalimat, di samping ketepatan pemilihan kata, memegang peranan penting dalam ciptaan sastra (Slametmuljana, 1956 : 5). Berdasarkan teori dari Slametmuljana di atas diperoleh sebuah pemahaman bahwa tugas stilistika adalah menjabarkan kesan kata-kata yang dipakai seorang pengarang dalam karya sastranya. Kesan ini akan dimiliki oleh setiap pembaca ketika atau pada saat membaca karya sastra yang memakai susun kata tertentu dari penulis karya sastra. Kesan ketika membaca karya sastra dengan kata-kata yang telah dipilih oleh pengarang akan tersimpan dalam ingatan pembaca karena ada penggunaaan kata-kata yang menarik bagi pembaca.
Stilistika sebagai studi sumber-sumber ekspresif bahasa yang dibicarakan dan mengeluarkan dari dalamnya studi bahasa sastra yang diorganisasikan untuk tujuan estetik (Pradopo, 1994, 2005 : 2).  Ini mengandung penelitian bahwa bahasa di seluruh dunia ini sumber-sumber ekspresif dari para pengarang atau pengguna bahasa pada umumnya. Jika dipakai dalam sebuah karya sastra, maka bahasa sebagai alat ekspresi bagi pengarang dan ini dipakai untuk tujuan estetik atau memiliki nilai keindahan.

B.   Objek Kajian Stilistika
Secara umum, lingkup telaah stilistika mencangkupi diksi atau pilihan kata (pilihan leksikal), struktur kalimat, majas, citraan, pola rima, dan mantra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam karya sastra (Sujiman 1993 : 13). Disamping itu kajian stilitika dilakukan dengan mengkaji berbagai bentuk dan tanda-tanda kebahasaan yang digunakan dalam seperti yang digunakan seperti yang terlihat dalam setruktur lahir. Tanda-tanda kebahasaan itu sendiri dapat berupa unsur fonologi, unsur leksikal, unsur sintaksis, dan unsur bahasa figuratif (Nurgiyantoro 1995 : 280). Aspek gaya bahasa meliputi, bunyi, kata, dan kalimat. Bunyi meliputi asosiasi, alitrasi, pola persajakan, orkestrasi dan iramanya, kata meliputi aspek morfologi, sematik dan etimologi, dan kalimat meliputi gaya kalimat dan sarana retorika (Pradopo, 1991 : 4).
Gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga dimensi yaitu, kejujuran, sopan santun, dan menarik (Keraf, 2002 : 113). Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kaliamat yang berbelit-belit adalah jalan untuk mengundang ketidak jujuran. Sopan santun dalam bahasa berarti kita memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak berbicara, khususnya pendengar atau pembaca. Menarik dalam bahasa dapat diukur melalui komponen: variasi, humor yang sehat, pengertian yang baik, tenaga hidup dan penuh daya khayal imajinasi.
Cara mengungkapkan diri dalam bentuk gaya bahasa itu dapat meliputi setiap aspek bahasa, pemilihan kata-kata, penggunaan kiasan, susunan kalimat, nada dan sebagainya (Dick Hartoko dalam pradopo, 1994 : 4). Begitu juga dikemukakan oleh Abram (dalam Pradopo, 1994 : 4) bahwa gaya bahasa suatu karya sastra dapat dianalisis dalam hal diksi atau pilihan kata, susunan kalimat dan sintaksis, kepadatan dan tipe-tipe bahasa kiasannya, pola-pola ritmenya, komponen bunyi, ciri-ciri formal lain dan tujuan serta sasaran retorisnya.
C.   Pengertian Gaya
Secara umum, gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, dan sebagainya (Keraf, 2002 : 113). Dengan demikian, segala perbuatan manusia dapat dipergunakan untuk mengetahui siapakah dia sebenarnaya atau segala perbuatan dapat memberikan gambaran sendiri. Dalam hubungan dengan karya sastra, terdapat berbagai pengertian atau pendapat tentang gaya yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pengertian tersebut. Istilah gaya berpadanan dengan istilah stylos (Aminuddin 1995 : 1). Secara umum makna stylus adalah bentuk arsitektur,  yang memiliki ciri sesuai dengan karaktristik ruang dan waktu. Semantara itu kata stylus bermakna alat untuk menulis sesuai dengan cara yang digunakan oleh penulisnya. Terdapat dimensi bentuk dan cara tersebut menyebabkan istilah style selain dikatagorikan sebagai nomina juga dikatagorikan sebagai verba. Secara etimologis stylistis berhubungan dengan kata style, artinya gaya, sedangkan stylistics dapat diterjemahkan ilmu tentang gaya. Gaya ialah cara pengungkapan dalam tulisan atau ujaran; penyeleksian ungkapan yang khas, cara yang khas dalam mengungkapkan pikiran melalui kata-kata yang runtut atau kiasan yang berbeda kesannya bila diungkapkan dengan cara yang lain  dan juga lebih menekankan pada pengolahan bahasa sebagai media yang akan  berubah menjadi karya sastra.
Enkvist (dalam Aminudin 1995 : 28) memberikan definisi style, antara lain: 1) bungkus yang membungkus inti pemikiran atau pertanyaan yang telah ada sebelumnya;  2) pilihan antara berbagai pernyataan yang mungkin;  3) sekumpulan ciri pribadi;  4) penyimpangan dari pada norma atau kaidah, dan 5) hubungan antar satuan bahasa yang dinyatakan dalam teks yang lebih luas dari pada sebuah ayat.  Pada masa Renaissance style diartikan sebagai cara menyusun dan menggambarkan sesuatu secara tepat dan mendalam sehingga dapat menampilkan nilai keindahan tertentu sesuai dengan impresi dan tujuan pemaparannya (Aminuddin 1995 : 31). Pada masa neoklasik, style diartikan sebagai bentuk penggungkapan ekspresi kebahasaan sesuai dengan kedalaman emosi dan sesuatu yang ingin di refleksikan pengarang secara tidak langsung. Dalam karya sastra istilah gaya atau style mengandung pengertian cara seorang pengarang menyampaikan gagasannya dengan menggunakan media bahasa yang indah dan harmonis serta mampu menuansakan makna dan suasana yang dapat menyentuh daya intelektual dan emosi pembaca (Aminuddin, 1995 : 72).
Gaya sebagai hiasan, sebagai sesuatu yang suci, sebagai sesuatu yang indah dan lemah gemulai serta sebagai perwujudan manusia itu sendiri (Salbach dalam Aminuddin 1995 : 72).  Sebenarnya gaya bahasa, secara intitutif pada umumnya telah dimengerti. Akan tetapi, sukar membuat batasan dan merumuskan pengertiannya tentang gaya bahasa. Ada bermacam-macam batasan dan pengertian mengenai gaya bahasa. Gaya bahasa merupakan cara penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan fungsi tertentu. Dalam karya sastra yang efektif tentu ada fungsi estetik yang menyebabkan karya yang bersangkutan bernilai seni. 
Nilai seni dalam karya sastra disebabkan oleh  adanya gaya bahasa dan fungsi lain yang menyebabkan karya sastra menjadi indah seperti adanya gaya bercerita atau pun penyusunan alurnya. Dalam mempergunakan bahasa untuk melantunkan gagasannya, penyair tentu saja memiliki pertimbangan di dalam mendayagunakan gaya bahasa. Dengan demikian, penyair mestinya mempunyai tujuan tertentu dalam hal itu. Ia mempergunakan gaya bahasa tertentu, bisa jadi merupakan suatu upaya guna menguatkan maksud yang disampaikanya. Kemampuan dalam mengolah dan mendayagunakan gaya bahasa menentukan berhasiltidaknya suatu karya sastra. Gaya bahasa merupakan penggunaan bahasa secara khusus untuk mendapatkan nilai seni. Hal ini seperti dikemukakan oleh Dick Hartoko dan Rahmanto (1986 : 137) bahwa gaya bahasa adalah cara yang khas dipakai seseorang untuk mengungkapkan diri (gaya pribadi).
Dikemukakan oleh Slamet Muljana, bahwa gaya bahasa itu susunan perkataan yang terjadi karena perasaan dalam hati pengarang dengan sengaja atau tidak, menimbulkan suatu perasaan tertentu dalam hati pembaca. Selanjutnya dikatakan bahwa gaya bahasa itu selalu subjektif dan tidak akan objektif. Gaya bahasa adalah cara mengekspresikan bahasa dalam prosa ataupun puisi. Gaya bahasa adalah bagaimana seorang penulis berkata mengenai apa pun yang dikatakan (Abram dalam pradopo 1994 : 190).
Begitu juga dikemukakan Harimurti (1983 : 49-50) salah satu pengertiannya adalah pemanfaatannya atas kekayaan bahasa oleh seseorang dalam bertutur atau menulis; lebih khusus adalah pemakaian ragam bahasa tertentu  untuk memperoleh efek-efek tertentu, dan lebih luasnya gaya bahasa itu merupakan keseluruan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra. Dilihat dari segi bahasanya bahwa gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa itu, dengan demikian Keraf (2002 : 113) memberi batasan bahawa style atau gaya bahasa adalah cara mengungkapakan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Gaya bahasa dalam arti umum adalah penggunaan bahasa sebagai media komunikasi secara khusus, yaitu penggunaan bahasa secara beragam dengan tujuan untuk ekspresivitas, menarik perhatian atau untuk membuka pesona (Pradopo 1994 : 139).
Gaya bahasa menurut Tarigan (1986 : 5) adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta memperbandingkan suatu benda atau hal lain yang lebih umum. Pendek kata, penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale dalam Tarigan 1985 : 5). Gaya bahasa adalah penggunaan bahasa yang khas dan dapat diidentifikasi melalui pemakaian bahasa yang menyimpang dari penggunaan bahasa sehari-hari atau yang lebih dikenal sebagai bahasa khas dalam wacana sastra.
Penyimpangan penggunaan bahasa biasanya berupa penyimpangan terhadap kaidah bahasa, banyaknya pemakaian bahasa daerah, pemakaian bahasa asing, pemakaian unsurunsur daerah dan unsur-unsur asing. Sekarang ini sudah banyak ditemukan gejala penggunaan bahasa yang menyimpang dalam karya sastra. Penyimpangan tersebut seperti banyaknya penggunaan bahasa daerah dalam khasanah novel Indonesia. Kecenderungan pemakaian bahasa tersebut untuk memunculkan warana daerah atau untuk memperoleh tujuan tertentu. Warna daerah atau warna lokal menurut Abram (dalam pradopo 1994 : 98) ciri khas suatu daerah yang secara detail tampak dalam cerita fiksi seperti dialek, adat, kebiasaan dan setting. Hal tersebut biasanya digunakan pengarang untuk menimbulkan efek estetis atau menghidupkan cerita.
D.   Majas
Majas atau gaya bahasa dalam karya sastra banyak kita temukan. Tanpa  keindahan bahasa karya sastra akan menjadi hambar. Dibawah ini akan dijelaskan tentang majas dan fungsi majas serta macamnya.
1.    Pengertian dan Fungsi Majas
Majas adalah bahasa kiasan yang dapat menghidupkan atau meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu. Majas dapat dimanfaatkan oleh para pembaca atau penulis untuk menjelaskan gagasan mereka (Tarigan 1985 : 179). Nurgiyantoro (1998 : 297) menyatakan bahwa permajasan adalah (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggaya bahasan yang maknanya tidak menujuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukung, melainkan pada makna yang ditambah, makna yang tersirat. Jadi permajasan adalah gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasa kias. Sedangkan Waluyo (1995 : 83) majas dengan figuran bahasa yaitu penyusunan bahasa yang bertingkat-tingkat atau berfiguran sehingga memperoleh makna yang kaya. Dengan demikian fungsi majas untuk menciptakan efek yang lebih kaya, lebih efektif, dan lebih sugestif dalam karya sastra. Pradopo (2002 : 62) menjelaskan bahwa majas meyebabkan karya sastra menjadi menarik perhatian, menimbulkan kesegaran, lebih hidup, dan menimbulkan kejelasan gambaran angan. Perrine (dalam Waluyo, 1995 : 83) menyebutkan bahwa majas digunakan untuk (1) menghasilkan kesenangan imajinatif, (2) menghasilkan imaji tambahan sehingga hal-hal yang abstrak menjadi kongrit dan menjadi dapat dinikmat pembaca, (3) menambah intensitas perasaan pengarang dalam menyampaiakan makna dan sikapnya, (4) mengkonsentrasikan makna yang hendak di sampaikan dan cara-cara menyampaikan sesuatu dengan bahasa yang singkat.  Dari beberapa pengertian yang ada di atas maka dapat disimpulkan bahwa majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikir yang terpendam didalam jiwanya. Dengan demukian gaya bahasa dapat membuat karya sastra lebih hidup dan bervariasi serta dapat menghindari hal-hal yang bersifat monoton yang dapat membuat pembaca bosan.
2.    Jenis Majas
Majas ada bermacam-macam jenisnya, namun meskipun bermacam-macam, mempunyai sesuatu hal (sifat) yang umum, yaitu majas tersebut mempertalikan sesuatu dengan cara menghubungkanya dengan sesuatu yang lain (keraf,  2002 :15). Pada dasarnya majas dapat dibagi menjadi empat jenis, yakni:  Majas Perbandingan; majas Sindiran; majas Penegasan, dan majas Pertentangan.

1.5  Matode
1.5.1      Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Surachmad (1985:131-139), metode deskriptif adalah metode penelitian yang dilakukan seobjektif mungkin, semata-mata berdasarkan kepada data yang ada. Metode ini berbentuk pengamatan yang menitikberatkan pada analisis isi. Metode deskriptif yang berjenis analisis bertujuan untuk mengungkapkan isi sebuah karya sastra dalam hal ini cerpen Cinta Sejati karya Antomi.


BAB II
DIKSI DALAM CERPEN CINTA SEJATI KARYA ANTOMI

2.1   Penggunaan Bahasa Inggris
Penggunaan Bahasa Inggris dalam cerpen cinta sejati ini terdapat beberapa Bahasa Inggris. Dengan adanya digunakannya Bahasa Inggris, menunjukkan bahwa cerpen ini berlatarkan di sebuah lembaga pendidikan yang sungguh maju, sehingga dapat menggunakan bahasa Asing yaitu Bahasa Inggris walaupun hanya beberapa saja.
Contoh Penggunaan Bahasa Asing yaitu Bahasa Inggris sebagai berikut:
Whats? Suci diet?! Apa nggak salah denger!” (dialog paragraf ke-3)

Kata diet itu merupakan bahasa Inggris yang berarti memakan makanan yang sedikit lemaknya.

Padahal itu makanan favoritnya lho. (paragraf ke-6)
Kata favorit merupakan bahasa asing yaitu bahasa Inggris yang berarti kesukaan.

Yang ada di kepala Suci, Cuma bayangan apel, apel dan ya apel again! (paragraf ke-7).
Kata again merupakan Bahasa Inggris yang digunakan dalm cerpen Cinta Sejati yang berarti lagi.

2.2   Penggunaan Bahasa Arab
Penggunaan bahasa arab di dalam cerpen cinta sejati ini terdapat beberapa Bahasa Arab. Dengan adanya penggunaan Bahasa Arab di dalamnya itu menunjukkan bahwa cerpen ini berlatar disebuah lembaga pendidikan yang memuat lebih banyak keagamaannya, sehingga tokoh di dalam cerpen tersebut dapat berbahasa dengan bahasa arab walaupun hanya beberapa kata bahasa arab. Contoh penggunaan bahasa arab di dalam cerpen ini yaitu sebagai berikut:
“Akhwat.”
“Iya. Akhwat, masa’ kelakuannya gawat gitu. Mana di tempat umum lagi…apa dia gak malu, diliatin sama anak-anak lain. (dialog paragraf ke-3)


2.3   Penggunaan Bahasa Daerah
Penggunaan bahasa daerah di dalam cerpen ini banyak sekali, yaitu penggunaan bahasa betawi. Dimana bahasa betawi ini menunjukkan bahwa latar dari cerpen ini adalah di sebuah kota. Sebab bahasanya merupakan bahasa gaul yang sering digunakan pada zaman modern ini.
Bahasa ini juga merupakan bahasa keseharian yang digunakan oleh banyak orang di sebuah kehidupan perkotaan, seperti banyak terlihat di salah satu layar televisi yang selalu ada bahasa gaul atau yang dikenal dengan bahasa betawi. Dengan demikian, bahasa tersebut dapat dilihat juga di dalam cerpen cinta sejati ini yaitu dalam kutipan-kutipan bahasa betawi dibawah ini:

… “Woiii, gue udah pegel nih diplototin mulu dari tadi! Berenti kenapa?” (paragraf ke-2)

“Ih, siapa yang cembuu? Heran aja. N’tu anak biasanya kan dingin banget sama cewek…” (dialog paragraf ke-3)

Emang sih kalo mau dibandingin Suci sama Annisa itu jauh banget, Annisa itu cewek kalem, pintar, imut, n yang pasti nggak segendut Suci. (dialog paragraf ke-3)







BAB III
PENGGUNAAN MAJAS DALAM CERPEN CINTA SEJATI KARYA ANTOMI

3.1   Majas Perbandingan
a.    Simile
Simile adalah gaya bahasa yang diungkapkan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti, layaknya, bagaikan, dan lain-lain.

Kutipan gaya bahasa yang terdapat di dalam cerpen:
“Uh, Suci…kalo manggil nama aku sekali aja dong! Gak usah diulang-ulang, jadi seperti klakson kedaraan tau! Kenapa lagi?” (dialog paragraf ke-3)

Suci gak abis pikir, begitu beratkah perjuangan yang harus dilaluinya demi “pinggul yang seksi, perut yang rata dan ops, tentu aja, pipi yang nggak tembem kayak bakpao” (paragraf ke-4)

Hihi… kayak ikan mas koki keabisan air. (paragraf ke-4)

Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja, otak Suci memutar ulang memorinya tentang ucapan Dinda waktu itu. (paragraf ke11)

b.    Hiperbola
Hiperbola adalah gaya bahasa pengungkapannya yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Penggalan gaya bahasa hiperbola yang terdapat di dalam cerpen:

“Lemak pipinya tak berkurang meski hanya satu milimeter. Padahal ia sudah memasuki babak kesepuluh hari sejak ia menyatakan perang terhadap kegendutan.” (paragraf ke-5)

c.    Metafora
Metafora adalah gaya bahasa pengungkapannya berupa perbandingan analogis dengan mengilangkan kata seperti, layak, bagaikan, dan lain-lain.

Penggalan gaya bahasa  yang terdapat di dalam cerpen:

“Muka Suci aja udah mirip apel, bulat kemerahan.” (paragraf ke-6).





3.2   Majas Sindiran
a. Satire
Satire adalah gaya bahasa yang mengungkapkan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dan lain-lain.
Kutipan gaya bahasa yang terdapat di dalam cerpen:
Ini jamu apa comberan ya? Kok… baunya ngalahin got depan rumah?

“Kamu pengen, ada yang menyayangimu, nggak peduli kamu gembrot, jerawatan, kulit bersisik, rambut pecah-pecah, idung bulu keriting…” (dialog paragraf ke-8)


3.3   Majas Penegasan
a.    Pararima
Pararima adalah gaya bahasa yang mengungkapkan pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.
Kutipan gaya bahasa yang terdapat di dalam cerpen:
“Bakal… jungkir-balik, alis ngejengkal… hihihi” (dialog paragraf ke-3)

3.4   Majas pertentangan
a.    Zeugma dan Silepsis
Zeugma dan silepsis adalah gaya bahasa yang mempergunakan dua konstruksi rapatan dengan cara menghubungkan sebuah kata dengan dua atau lebih kata lain yang pada hakekatnya hanya sebuah saja yang mempunyai hubungan dengan kata yang pertama.

Contoh penggunaan gaya bahasa Zeugma dan Silepsis sebagai berikut:
“Sebenernya kalo dipikir-pikir Suci tuh nggak gendut amat cuma agak kelebihan berat badan doang” (paragraf ke-2)


BAB IV
PENUTUP

4.1   Simpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam membuat cerpen, Antomi sangat memperhatikan nilai estetisnya sehingga banyak ditemukan gaya bahasa untuk memperindah kata-kata di dalam tiap-tiap kalimat cerpennya.
Cerpen Cinta Sejati karya Antomi mengandung gaya bahasa yang terdiri dari perbandingan, sindiran, dan penegasan. Gaya bahasa tersebut berfungsi memberikan efek estetis atau keindahan. Hal ini menjadikan karya Antomi menjadi lebih hidup dan berbeda degan karya lainnya.

4.2   Saran
Dalam menganalisis sebuah karya sastra yang tentunya karangan seseorang, agar dapat dianalisis dari segi atau dari tinjauan stilistikanya. Sebab, di indonesia ini pada umumnya masih jauh dari kurang yang mengambil atau yang menganalisis dari segi gaya bahasa. Jadi di sarankan supaya dapat menganaisis sebuah karya sastra dari segi gaya bahasanya juga, karena menganalisis gaya bahasa lebih banyak yang di dapatkan daripada menganalisis yang lainnya. Sebab, analisis gaya bahasa banyak nilai-nilai didapatkan di dalamnya.




DAFTAR PUSTAKA

Junus, Umar. 1989. Stilistik : Satu Pengantar. Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka.
Supriyanto, Teguh. 2009. Stilistika dalam Prosa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Antomi. 2009. Cinta Sejati.
(online)(http://cerpenkompas.wordpress.com.





SINOPSIS CERPEN “CINTA SEJATI” karya ANTOMI

Harus! Titik! Nggak ada tapi-tapian lagi! Apapun yang terjadi dia harus bisa! Yap, apalagi kalo bukan harus langsing! Itu misi terpentingnya. Itu cita-citanya yang paling diimpikan siang malam, pagi sore, pokoknya segera. Darurat deh! Doo segitunya? Emang seh, cita-citanya nggak semulia orang lain malah kesannya malu-maluin, tapi Suci nggak peduli. Dia tetep keukeh pengen langsing mendadak, kalo bisa malah lebih instan daripada buat mie.
Sebenernya kalo dipikir-pikir Suci tuh nggak gendut amat cuma agak kelebihan berat badan doang (ye, itu sih sama aja!) dalam rangka merencanakan strategi pelangsingan yang oke punya, maka disinilah Suci berada. Di depan kaca besar dalam kamarnya yang serba pinky. Tepatnya sudah satu jam lebih 34 menit plus 10 detik. Mungkin kalo kacanya bisa ngomong kayak di dongeng, doi bakalan misuh-misuh alias bete abis… “Woiii, gue udah pegel nih diplototin mulu dari tadi! Berenti kenapa?” kurang lebih gitu kali. Sayang aja, kacanya nggak bisa protes. Dan Suci masih aja puter-puter mirip gasing. Ih… kurang kerjaan banget sih? Akhirnya Suci berhenti juga muter-muter dan coba-coba jilbab yang super ribet (baginya), kepalanya mulai pening, nyut-nyutan gara-gara kebanyakan muter. Untung belum oleng, tapi Suci masih belum selesai juga. Sekarang dipegangnya pipi yang lumayan gembil itu. Huh, apa tadi kata Dinda? Tembem? Masak sih? Tapi…emang tembem, sampe matanya jadi keliatan lebih kecil ketutup dengan pipinya. Kebayang kan gimana betenya Suci? So, menimbang, memilih dan memutuskan (ceile, lagaknya kayak direktur aja) hari ini Suci menyatakan perang dengan segala makanan dan hal lain yang berkaitan erat dengan kegemukan termasuk sama coklat yang paling dia sukai. Motto Suci yang tadinya tiada hari tanpa ngemil, terpaksa harus disingkirkan. Tapi, apa sih sebenernya yang bikin Suci jadi mati-matian mau langsing gitu?
Sebelumnya Suci oke-oke aja dengan bodynya yang lebih berisi dibanding cewek seangkatannya. Tapi itu dulu! Waktu Suci masih wajib peke seragam putih biru. Sering sih, dia diledek oleh teman sekelasnya. Tapi sejak beberapa bulan lalu, pas Suci udah jadi siswa SMA, mulai deh uring-uringan. Tadinya dikit tapi tambah lama tambah berat. Terus, mendadak jadi hal yang prinsipil.
Kantin sekolah (jam istirahat)
“Din, Din!”
Emangnya aku klakson?! Apaan sih! Gangguin kenikmatan orang lagi makan aja!”
“Liat deh, liat deh! Itu tuh, mas Yusuf ketua rohis sekolah kita lagi sama anak kelas satu yang baru masuk.”
“Ada apa sama mereka?”
“Mesra amat, seh!”
“Yee…bolehnya cembokur.”
“Ih, siapa yang cembuu? Heran aja. N’tu anak biasanya kan dingin banget sama cewek…”
“Kulkas kali…”
“Eh, Din, Din…”
“Uh, Suci…kalo manggil nama aku sekali aja dong! Gak usah diulang-ulang, jadi seperti klakson kedaraan tau! Kenapa lagi?”
“Apa cewek kelas satu itu nggak risih duduk berduaan sama cowok? Mana rapeet benget. Padahal dia kan…”
“Pake jilbab?”
“Iya. Harusnya dia malu dong sama jilbabnya! Masa’ akh…akh…apa namanya, Din?”
“Akhwat.”
“Iya. Akhwat, masa’ kelakuannya gawat gitu. Mana di tempat umum lagi…apa dia gak malu, diliatin sama anak-anak lain?”
“Tapi, Ci…”
“Ih, mending lepas aja jilbabnya!”
“Lho, kok?”
“Buat apa pakai jilbab kalo kelakuannya gak Islami gitu?”
“Tapi Annisa…”
“Ah, siapapun namanya, ketika seorang wanita telah memutuskan berjilbab, seharusnya dia bisa menyesuaikan kelakuan dengan pakaian yang dikenakannya. Tapi anak kelas satu itu…”
“Annisa?”
“Iya, iya… Annisa, kamu sendiri sebagai akh… akh…”
“Akhwat.”
“Iya itu, apa kamu nggak risih melihat mereka dua-duaan gitu? Aku aja belum pake jilbab gak gitu-gitu amat kalo sama cowok…”
“Ha ha ha… kamu pasti cemburu sama Annisa, kan?”
“Idiih… siapa yang cemburu?!”
“Gak cemburu tapi mukanya merah…”
“Masak sih, Din?”
“Liat aja sendiri di kaca!”
***
Ruang kelas XI ipa 4, 15 menit sebelum bel masuk berbunyi.
“Din, Din!”
“Suci…! Kali ini apa lagi? Cepetan kalo mau cerita, aku lagi sibuk ngerjain PR kimia!”
“Masih soal mas Yusuf sama anak kelas satu itu.”
“Kenapa lagi mas Yusuf sama Annisa?”
“Kemarin aku liat mereka jalan berdua di Sriwedari! Mereka bener-bener udah jadian, ya?”
“Jadian?”
“Iya, pacaran!”
“Suci, mereka itu…”
“Pacaran, kan? Uh, sebel banget deh ngliat mereka jalan berduaan…”
“Hayo! Kamu naksir kan sama ketua rohis sekolah kita itu?”
“Naksir? Aku? Sama mas Yusuf?”
“Iya, kalo gak naksir, kenapa harus sebel melihat mereka jalan berduaan?”
“Oh, eh, i…i…tu…”
“Ngaku aja, deh! Naksir juga nggak apa-apa.”
“Ngg.. anu… hehe… iya sih, Din…”
“Huh, ngomong gitu aja kok susah amat…Udah ah, lagi sibuk, nih.. masih banyak soal yang belum aku kerjakan.”
“Eh Din… terus gimana, dong? Gimana caranya supaya mas Yusuf suka sama aku?”
“Lho! Bukannya selama ini mas Yusuf emang suka sama kamu?”
“Masa sih, Din? Kamu tau dari mana?”
“Yang aku liat begitu, Uci mas Yusuf itu suka ama kamu.”
“Yang bener, Din?”
“Iya, suka… nyuekin kamu! Huahaha…hahaha”
“Dindaaaaaaaaaaa!!!...!”
***
Emang sih kalo mau dibandingin Suci sama Annisa itu jauh banget, Annisa itu cewek kalem, pintar, imut, n yang pasti nggak segendut Suci.
Teras depan rumah Dinda, siang menjelang sore.
“Gawat, Din! Gawat Din! Aku liat mas Yusuf boncengin Annisa pakai motor!”
“Dimana letak gawatnya?”
“Annisa duduknya rapeeeeet banget, pake meluk pinggangnya mas Yusuf segala!”
“Biarin aja, biar gak jatoh kali. Diakan kecil anaknya, nggak kaya kamu!”
“Emang kenapa sama aku?”
“Kamu kan gede, jadi gak bakalan jatoh kalo ketiup angin, tapi…”
“Tapi apa Din…?”
“Jatoh juga sih!... kalo kamu yang bonceng, kamunya gede, mas Yusufnya kurus ya bakal…”
“Bakal apa?”
“Bakal… jungkir-balik, alis ngejengkal… hihihi”
“Iiih… Dinda”
“Apa iya mas Yusuf milih cewek yang ramping?”
“Iya kali”
“Hemm… kalo gitu aku musti diet ketat nih!”
“Whats? Suci diet?! Apa nggak salah denger!”
***
Ini jamu apa comberan ya? Kok… baunya ngalahin got depan rumah? Suci gak abis pikir, begitu beratkah perjuangan yang harus dilaluinya demi pinggul yang seksi, perut yang rata dan ops, tentu aja, pipi yang nggak tembem kayak bakpao. Glek! Glek! Suci merem sempet megap-megap sebentar. Hihi… kayak ikan mas koki keabisan air. Perutnya seperti dikitik-kitik, kayak mau muntahin sesuatu. Jamu tadi, tapi Suci udah bertekad baja. Apapun yang terjadi, jamu itu harus ngendon di perutnya. Nggak boleh keluar lagi. Hhhh… Suci menderita sekali.
Seandainya mas Yusuf tau betapa besar pengorbanannya demi bisa diboncengin ketua rohis itu, biar gak ngejengkal, kan kasihan juga mas Yusufnya. Ini sudah merk jamu yang ketujuh, yang dicobanya. Dan tak sedikitpun perubahan terjadi pada bodynya. Lemak pipinya tak berkurang meski hanya satu milimeter. Padahal ia sudah memasuki babak kesepuluh hari sejak ia menyatakan perang terhadap kegendutan.
***
Jamu udah! Pil pelangsing udah! Teh hijau biar singset udah! Pake magnet di perut sampe sesak nafas udah! No coklat, no es krim, udah! Padahal itu makanan favoritnya lho. Berenang seminggu sekali (meski lebih banyak air kolam yang ketelen ketimbang berenang). Juga udah! Anti makan nasi udah! Puasa makan pas lewat dari jam enam sore, udah! Yang terakhir, seminggu belakangan ini, dia cuma makan apel doang. Beneran Cuma apel tok! Pagi, sarapan apel, siang, makan apel, malem, apel lagi. Muka Suci aja udah mirip apel, bulat kemerahan.
Sampe-sampe kemarin, pas upacara, dia hampir pingsan. Nyaris! Matanya kunang-kunang. Yang keliatan cuma bintik-bintik putih yang rada mengkilat, terang, kedip-kedip. Buru-buru dia pegangan di bahunya Dinda, kalo nggak, pasti deh dia udah gedubrak di lantai.Yang ada di kepala Suci, Cuma bayangan apel, apel dan yap apel again!
“Udah deh Suci jangan diterusin lagi…”
“Ah, aku masih kuat kok…”
“Kamu udah gila? Nggak cukup tadi kamu mau pake acara pingsan segala?”
“Itu kan nyaris, belum pingsan beneran!”
“Oke! Gini aja, aku nggak mau ngurusin kamu lagi kalo besok kamu pingsan beneran!”
“Yah, kamu segitunya ama aku, siapa lagi yang mau nolongin aku kalo bukan kamu, pliss!”
“Salah kamu sendiri! Diet kok nggak kira-kira?”
“Abis gimana dong! Aku harus langsing, ini mutlak! Ini menyangkut mati hidupnya aku!”
“Suci…emang kalo kamu langsing, apa mas Yusuf pasti bakal mau jadi pacar kamu? Ini lagi, kamu jadi ikut-ikutan pake jilbab, mending kalo pake jilbabnya karena Allah ta’ala tapi ini malah melenceng, cuma demi merebut perhatian mas Yusuf dari Annisa!”
“Namanya juga usaha!”
“Usaha sih boleh, tapi apa usahamu, pengorbananmu setimpal harganya dengan seorang Yusuf?”
Suci diam, iya juga sih! Kenapa mas Yusuf harus menjadi begitu penting baginya? Mengalahkan rasa perih yang musti dideritanya saat menahan lapar. Mengalahkan lelahnya setiap kali ia jogging, berenang, sit up. Mengalahkan nasib lambungnya yang jadi bahan percobaan segala merek obat pelangsing. Mengalahkan kepalanya yang nyut-nyutan karena seminggu ini ia bela-belain hanya memakan apel. Mengalahkan rasa gerahnya pake jilbab karena buat nyaingin penampilan Annisa cewek kelas satu itu. Beginikah susahnya? Padahal ia hanya ingin merasa disayangi, dicintai? Hanya itu. Tidak lebih. Tidak berhakkah ia untuk merasakan semua itu?
***
“Kamu pengen dicintai, disayangi dengan keadaan kamu yang apa adanya ini kan?” Suci menggeleng, tak mengerti ke arah mana pembicaraan Dinda.
“Kamu pengen, ada yang menyayangimu, nggak peduli kamu gembrot, jerawatan, kulit bersisik, rambut pecah-pecah, idung bulu keriting…”
“Hei! Stop! Stop! Kok malah ngejekin aku?”
“Ups, sory! Aku terlalu bernafsu…”
“Emangnya ada?”
“Oh, jelas! Bahkan lebih hebat dari siapapun dan apapun di dunia ini. Maha segalanya. Gak ada tandingannya deh!”
“Kalo kamu misal suatu saat jadian sama mas Yusuf, pasti ada berantemnya. Pasti ada sedihnya, betenya, empetnya, marahnya, belum lagi kalo mas Yusuf misal suka sama cewek lain, wuih… kamu pasti sakit ati banget kan?”
“Kok doa kamu jelek banget sih?”
“Bukannya gitu. Ini kan fakta yang bakal kamu alamin kalo jadian sama dia… Nah kalo sama yang aku calonin tadi, kamu nggak bakal sakit ati. Never deh! Promise!” Dinda mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.
“Siapa sih?”
“Allah…!”
***
Kok semuanya serba putih? Dimana dia? Apa ini mimpi? Suci menatap nanar sekelilingnya. Ia mengangkat tangan kanannya hendak mencubit pipi, biar ia segera tahu ini mimpi atau bukan. Tapi, waa… kok ada selang infus di tangannya? Buat apa? Memangnya dia sakit? Kapan? Kok dia nggak ngeh? Diliriknya Dinda yang menelungkup di pinggir tempat tidur. Kayaknya sih tidur, kalo gitu, beneran dong ini rumah sakit! Pengen ngebangunin Dinda, mau nanya kenapa ia bisa ada di sini tapi kok ya… nggak tega. Liat aja muka Dinda, meski cuma separo pipinya yang keliatan, tapi jelas ada lingkaran hitam di sekeliling matanya. Pasti kurang tidur, ngapain dia begadang? Ye, tulalit amat! Begadang nungguin dia lah, siapa lagi? Suci berusaha mengingat hal terakhir yang dilakukannya.
Mmm... apaan ya? Kayaknya di sekolahan deh! Trus… apa ya? Suci berusaha keras mengingatnya. Kepalanya jadi cenut-cenut. Tapi Suci nggak berenti mikir. Ah, ya! Dia ingat sekarang! Waktu itu, perutnya perih banget, jalannya udah lemes, diseret-seret karena tenaganya udah drop. Dia telentang di Mushola SMA nungguin Dinda yang lagi sholat. Dia sendiri? Hihi… masih bolong-bolong sholatnya. Tergantung mood, meskipun dia udah berjilbab. Huss! Bukannya nyadar kok malah ngikik. Abis itu apa ya? Kayaknya sampe disitu deh! Seterusnya gelap, ya… gelap.
Kepala Dinda bergerak, tangannya menggeliat, air mukanya terkejut, campur bahagia melihat Suci yang udah bangun.
“Eh, kamu udah bangun ya?”
“Aku bego ya, Din?”
“Siapa yang bilang kayak gitu?”
“Aku bener-bener idiot, kan?”
“Ssshh… nggak bagus ngomong kayak gitu.”
“Aku bego… mau-maunya kayak gini cuma gara-gara…”
Air mata Suci mulai merembes.
“Kamu nggak bego cuma khilaf…”
“Udah deh, Din! Nggak usah ngehibur aku! Aku tau, aku ini bener-bener stupid!”
“Eh kamu tahu Annisa itu?”
“Udah deh Din! Aku nggak mau nginget-nginget tentang itu!”
“Mereka kakak beradik”
“Hah…! Yang bener kamu?”
“Ye, kamu nya sih kebiasaan, kalo orang ngomong itu dengerin dulu, jangan nyerocos terus!”
“Jadi! Bukannya karena mas Yusuf suka sama cewek yang langsing & pake jilbab kaya Annisa itu?”
“Wah, kalo itu mana aku tahu…”
“Uh, udah dibela-belain diet ketat plus pake jilbab sampe kepala aku rasanya gatel banget, lagi…”
“Terus, kamu mau lepas jilbab kamu?”
“Yah, ehm… gimana ya…”
“Kamu nggak malu lepas jilbab? Jilbab itu bukan buat mainan tau!”
“Aku gak lepas jilbabku.”
“Nah, gitu dong!”
“Tapi… aku masih bisa kan ngecengin mas Yusuf?”
“Suci, udah deh, aku gak mau nungguin kamu di rumah sakit lagi kalo kamu jatuh sakit lagi gara-gara pengen diet!”
“Ya, ya… aku bakal berenti diet!”
“Nah, itu baru Suci temanku.”
“Aww, sakit tau pipiku dicubit!”
“Habis kamu ngegemesin sih!”
Entah darimana datangnya, tiba-tiba saja, otak Suci memutar ulang memorinya tentang ucapan Dinda waktu itu. Tentang ada yang bisa menyayanginya bagaimanapun buruknya rupa dia. Ada yang bisa menyayanginya tanpa ia harus berkorban menjadi langsing.
Ada! Suci yakin sekali, dia memang selalu menyertai kita, memperhatikan kita, mengawasi kita, menyayangi kita lebih dari siapapun, dialah Allah swt. Hanya Allah-lah yang mengerti tentang diri kita. Dan hanya kepada Allah-lah kita patut mencurahkan cinta sejati.